Infeksi Menular Seksual VS HIV

Infeksi Menular Seksual (IMS-Sexually transmitted infections-STI) di negara berkembang merupakan masalah besar dalam bidang kesehatan masyarakat. Di Asia Tenggara terdapat hampir 50 juta IMS setiap tahun. IMS dapat menyebabkan individu menjadi rentan terhadap infeksi HIV.

IMS dalam populasi merupakan faktor utama pendorong terjadinya pandemi HIV di negara berkembang. Proporsi infeksi baru HIV dalam populasi IMS, lebih tinggi pada awal dan pertengahan epidemi HIV.

Penularan infeksi melalui hubungan seksual diikuti dengan perilaku yang menempatkan individu dalam risiko tertular HIV, seperti berganti-ganti pasangan seksual, pasangan berisiko tinggi, dan tidak konsisten menggunakan kondom. Pencegahan terhadap IMS akan melindungi diri tertular HIV.

HIV menular melalui :
1) Kontak seksual atau hubungan seksual dengan penetrasi atau sanggama
Penularan melalui hubungan seksual adalah cara yang paling dominan dari semua cara penularan. Penetrasi atau Sanggama berarti kontak seksual dengan penetrasi vaginal, anal, dan oral seksual antara dua individu. Risiko tertinggi adalah penetrasi vaginal atau anal yang tak terlindung dari individu yang terinfeksi HIV. Kontak seksual langsung (mulut ke penis atau mulut ke vagina) masuk dalam kategori risiko rendah tertular HIV.
2) Pajanan oleh darah terinfeksi, produk darah atau transplantasi organ dan jaringan serta penggunaan jarum suntik bergantian pada penasun:
Penularan dari darah dapat terjadi jika darah donor tidak di lakukan uji saring untuk antibodi HIV. Pajanan HIV pada organ dapat terjadi dalam proses transplantasi jaringan / organ di pelayanan kesehatan.
3) Penularan dari ibu-ke-anak:
Kebanyakan infeksi HIV pada anak didapat dari ibunya saat ia dikandung, dilahirkan, dan sesudah lahir. Risiko penularan tanpa intervensi, sangat bervariasi di satu negara dengan negara lain dan umumnya diperkirakan antara 25-40% di negara berkembang dan 16 – 20% di Eropa dan Amerika Utara.

Ingin lebih jelas, silahkan hubungi KLINIK VCT RSUD Banyumas pada setiap jam kerja melalui no 0281 – 796031

SIMRS di Era BPJS

Pembiayaan perawatan pasien di rumah sakit pada era BPJS yang dimulai 1 januari 2014 yang lalu, membawa konsekuensi tersendiri bagi perkembangan Sistem Informasi Rumah Sakit, terutama pada transaksi keuangan dan billing. Kita mengetahui, pembiayaan pasien peserta JKN yang dibayarkan oleh BPJS, menggunakan tarif INACBG’s yang merupakan tarif hasil grouper dari beberapa indikator/data yaitu : diagnosa medis (primer & sekunder), tindakan medis, LOS (dalam kasus subakut & krnis), severity level, special investigation, special procedure, special drugs dan special prosthesis. Orang-orang TI menyebutnya dengan sistem pakar. Continue Reading →

Apa yang ditawarkan RSUD Banyumas?

Layanan Thalasemia

Angka penderita Thalasemia di Kabupaten Banyumas cukup tinggi. Alasan itulah didirikan yayasan Thalasemia yang didukung oleh Wakil Bupati Banyumas kala itu, yang sekarang menjadi Bupati Banyumas yaitu Ir. H Achmad Husein. Menjadi rujukan Thalasemia tentu bukan hal yang mudah. Melalui yayasan Thalasemia pasien thalasemia di RSUD Banyumas mendapatkan kemudahan dalam pelayanan, karena otomatis masuk dalam program Jampertal.

Pelayanan Kesehatan Jiwa Terpadu

Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan jiwa di RSU Banyumas disemua tataran kelas pelayanan melalui pelayanan kesehatan jiwa yang terpadu sehingga mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya Banyumas dan sekitarnya

Haemodialisa

Unit Haemodialisa

Unit Haemodialisa RSUD Banyumas kini memiliki 26 mesin. Dengan pengaturan pelayanan dua shift, pagi dan sore hari, saat ini telah melayani 158 pasien dan kecenderungannya terus bertambah. Degan demikian memaksa unit Haemodialisa untuk membuka pelayanan tiga shift yaitu pagi, sore dan malam hari.